Belakangan ini aku sering lihat perdebatan soal konten UGC. Ada yang bilang masih efektif, ada juga yang merasa sudah mulai membosankan. Di tengah ramainya media sosial, pertanyaannya jadi menarik, apakah konten UGC masih diminati banyak orang?
UGC adalah singkatan dari User Generated Content, yaitu konten yang dibuat oleh pengguna atau konsumen, bukan langsung dari brand. Biasanya bentuknya review produk, testimoni, atau video pengalaman menggunakan suatu layanan. Model ini sempat jadi andalan banyak brand karena terasa lebih natural dan tidak terlalu seperti iklan.
Kenapa Konten UGC Sempat Meledak
Beberapa waktu terakhir, konten UGC jadi strategi populer dalam digital marketing. Brand menyadari bahwa audiens lebih percaya pada pengalaman orang lain dibandingkan promosi resmi perusahaan.
Konten UGC terasa lebih personal. Bahasa yang digunakan cenderung santai dan relatable. Formatnya juga mengikuti tren platform seperti TikTok atau Instagram Reels. Hal ini membuat konten UGC terlihat seperti rekomendasi teman, bukan promosi yang dipaksakan. Bahkan pada beberapa produk videonya tidak terlihat sedang promosi sama sekali. Produk hanya ditampilkan sekilas saja.
Tidak heran banyak brand berlomba lomba menggandeng kreator UGC untuk memasarkan produk mereka.
Realitanya Sekarang Tidak Sesederhana Itu
Walaupun masih banyak brand yang menggunakan konten UGC, aku juga melihat perubahan perilaku audiens. Sekarang penonton semakin kritis. Banyak yang mulai sadar bahwa sebagian besar konten UGC tetaplah bagian dari strategi marketing.
Bahkan tidak jarang audiens membongkar konten UGC yang dianggap terlalu scripted atau tidak jujur. Ada yang membandingkan review satu dengan lainnya, ada yang mengomentari ekspresi kreatornya, bahkan ada yang menelusuri apakah produk tersebut benar benar dipakai sehari hari.
Kepercayaan tetap penting, tapi keaslian jadi faktor utama.
Konten yang Sedang Naik Daun
Di tengah kondisi ini, aku melihat tren konten yang lebih transparan mulai diminati. Salah satunya adalah konten dengan POV business owner. Banyak pemilik bisnis yang membagikan proses di balik layar, mulai dari produksi, kesulitan, sampai perjalanan brand mereka berkembang.
Konten seperti ini terasa lebih jujur dan membumi. Audiens tidak hanya melihat hasil akhir, tapi juga prosesnya. Ada cerita, ada perjuangan, dan ada sisi manusia di dalamnya.
Selain itu, konten real life juga makin disukai. Bukan sekadar review singkat, tapi pengalaman nyata yang lebih detail dan tidak terlalu dibuat buat. Orang ingin melihat sesuatu yang terasa autentik.
Jadi Apakah UGC Masih Relevan
Menurutku, konten UGC masih relevan, tapi tidak bisa lagi dibuat asal. Audiens sekarang lebih cerdas dan cepat menangkap mana konten yang tulus dan mana yang hanya mengejar komisi.
Brand perlu lebih selektif dalam memilih kreator dan lebih jujur dalam menyampaikan pesan. Kombinasi antara UGC yang natural dan konten transparan dari business owner bisa jadi strategi yang lebih kuat.
Di dunia digital marketing, tren memang terus berubah. Yang bertahan biasanya bukan formatnya, tapi nilai kejujurannya.
Kalau ingin memahami tren konten seperti ini lebih dalam dan belajar strategi digital marketing yang relevan dengan kondisi sekarang, di DUMET School tersedia paket kursus digital marketing yang bisa membantu memahami pola audiens, strategi konten, dan cara membangun brand secara lebih autentik di era digital.